Rabu, 02 Januari 2013

'Jurang Fiskal' Masih Tunggu Voting Politisi AS



Jakarta - Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat tengah melakukan pemungutan suara untuk memutuskan pelaksanaan kebijakan pemerintah yaitu "jurang fiskal" dengan menaikkan pajak dan pemotongan belanja yang besar mulai pada tahun 2013 ini.

Sejauh ini, negosiasi yang terjadi banyak menyuarakan ketidakpuasan terhadap pilihan pemerintah Amerika Serikat tersebut dan mengancam akan menggagalkan undang-undang dengan menambahkan amandemen baru.

Aturan ini pun tidak mendapatkan dukungan yang besar dari Partai Republik. Pemungutan suara diharapkan selesai sekitar pukul 9.30 waktu setempat.

DPR AS selama ini menunda keputusan tersebut pada tahun 2012 lalu dengan mencegah kenaikan pajak hingga US$ 500 miliar dan pemotongan belanja untuk 2013.

Sebelumnya, Partai Republik telah melakukan pertemuan terhadap para anggota parlemen dengan menyatakan ketidaksetujuan peningkatan tarif pajak bagi warga kaya di Amerika, tetapi kaum konservatif mengharapkan adanya pemotongan belanja.

Anggota kongres, John Fleming, seorang konservatif berpengaruh menyatakan tidak akan mendukung RUU yang telah disetujui Senat tersebut tetapi dia akan mendukung persamaan, terutama mengingat dampak potensi AS dan pasar keuangan globalnya.

Analisis :
Kebijakan Pemerintah Amerika Serikat dengan menaikan pajak dan memotong belanja yang besar tentunya akan berefek tidak hanya di Negara tersebut saja. Karena mengingat amerika merupakan barometer perekonomian dunia tentunya hal tersebut akan perdampak pula ke perekonomian Negara lain termasuk Indonesia.


Sumber       :
http://finance.detik.com/read/2013/01/02/094629/2130916/4/jurang-fiskal-masih-tunggu-voting-politisi-as?                            03.30pm          02/01/2012

RI Masuk 10 Negara Pengutang Terbesar



Jakarta - The World Bank (Bank Dunia) baru saja merilis 'International Debt Statistic 2013' atau 'Statistik Utang Internasional 2013'. Dalam laporan tersebut, Bank Dunia memiliki data arus modal hingga tahun 2011.

Arus utang masuk ke negara-negara berkembang terlihat menurun pada tahun 2011. Namun Indonesia sendiri masih masuk kedalam 10 pengutang terbesar di antara negara berkembang.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyatakan hal tersebut bukanlah masalah besar selagi utang itu bisa memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

"Tanggapan saya kalau utang itu digunakan secara produktif dan memang diperlukan untuk memberikan nilai tambah terhadap perekonomian itu tidak apa-apa," jelas Agus Marto saat ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Kamis (27/12/2012).

Menurut Agus Marto, jumlah utang Indonesia saat ini masih dalam tahap wajar jika dibandingkan dengan PDB Indonesia.

"Kalau lihat jumlah utang memang harus dibandingkan dengan size ekonomi dan Indonesia menunjukan utang terhadap size ekonomi kita tidak besar. Jadi kalau untuk memberikan nilai tambah, tidak apa-apa," tandasnya.

Sesuai dengan laporan tersebut, berikut 'Top 10 Borrowers-External Debt Stock 2011' atau '10 Besar Peminjam-Utang Luar Negeri 2011' versi Bank Dunia:


  • China US$ 685,4 miliar
  • Russia US$ 543,0 miliar
  • Brasil US$ 404,3 miliar
  • Turki US$ 307,0 miliar
  • India US$ 334,3 miliar
  • Meksiko US$ 287,0 miliar
  • Indonesia US$ 213,5 miliar
  • Ukraina US$ 134,5 miliar
  • Rumania US$ 129,8 miliar
  • Kazakhstan US$ 124,4 miliar

Berdasarkan data, total utang pemerintah Indonesia hingga November 2012 mencapai Rp 1.990,66 triliun. Dalam sebulan, jumlah utang ini turun Rp 930 miliar.

Utang pemerintah tersebut terdiri dari pinjaman Rp 615,34 triliun dan surat berharga Rp 1.375,33 triliun. Jika menggunakan PDB Indonesia yang sebesar Rp 7.226 triliun, maka rasio utang Indonesia per November 2012 sebesar 27,5%.

Analisis :
Menilai jumlah utang Negara harus dibandingkan dengan ukuran perekonomian suatu Negara, jika utang tersebut digunakan secara produktif dan untuk nilai tambah suatu perekonomian Negara tersebut itu tidak apa-apa.

Sumber :
http://finance.detik.com/read/2012/12/27/172828/2128193/4/ri-masuk-10-negara-pengutang-terbesar-agus-marto-itu-tidak-apa-apa?            03.15pm            02/01/2013

BBM Batal Naik, Penyerapan Belanja Negara Tidak Capai Target



Jakarta - Menteri Keuangan Agus Martowardojo menjelaskan realisasi penyerapan belanja negara tidak mencapai target di 2012. Hingga akhir tahun, realisasi penyerapan belanja negara hanya 95,6%.

Agus Marto menjelaskan batalnya kenaikan BBM bersubsidi menjadi salah satu pemicu tidak tercapainya penyerapan anggaran hingga 100% di 2012.

"Ada Rp 30 triliun kita siapkan dana kompensasi kalau BBM dinaikkan supaya kita bisa memperhatikan rakyat dan transportasi, tapi harga BBM bersubsidi tidak naik, anggaran tidak digunakan. Itu menjadi penyebab realisasi belanja negara dibawah anggaran," tutur Agus Marto di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (2/1/2013).

Selain itu, Agus Marto menyebut realisasi penerimaan negara juga tidak mencapai target hingga tutup buku 2012 atau hanya sekitar 97,5%.

"Penerimaan negara, itu 2,5% lebih rendah dari yang dianggarkan," ujarnya.

Dengan realisasi demikian, Agus Marto mengatakan defisit anggaran hingga akhir 2012 cukup memuaskan karena masih di bawah asumsi yang ditetapkan.

"Defisitnya masih rendah yaitu yang kita anggarkan 2,23% realisasinya 1,89%. Dan ini antara lain karena ada pos anggaran yang kita gunakan untuk antisipasi resiko tidak kita gunakan," tambahnya.

Sementara itu, untuk anggaran belanja kementerian/lembaga secara lengkap akan diumumkan dalam waktu dekat.

"Itu angka-angkanya kalau sudah final kita akan publikasikan," pungkasnya.

Sebagai informasi, pada tahun 2011, realisasi belanja negara mencapai Rp. 1.289,6 triliun atau 97,6% dari pagu APBN-P 2011 sebesar Rp.1.320,8 triliun. Jumlah tersebut naik Rp. 247,6 triliun atau 23,8% dari realisasi tahun 2010 sebesar Rp. 1.042,0 triliun.

Analisis :
Tidak tercapainya realisasi penyerapan belanja Negara baiknya harus menjadi perhatian pemerintah, walaupun selisih nilai yang ditargetkan tidak besar tapi tentunya ini berefek besar terhadap masyarakat. Dan ini harus jadi pertimbangan untuk tahun selanjutnya agar penyerapan belanja Negara bisa di maksimalkan lagi.


Sumber :
http://finance.detik.com/read/2013/01/02/142126/2131241/4/bbm-batal-naik-tahun-2012-penyerapan-belanja-negara-melempem?           03.00pm           02/01/2013

Selasa, 25 Desember 2012

Catatan Ekonomi Indonasia 2012 dan Prospek 2013



OKEZONE : 2012 segera berakhir. Meskipun masih dibayangi krisis global, secara umum kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2012 cukup baik.

Berbagai variabel makroekonomi dan fiskal, juga berbagai indikator di sektor finansial dan sektor riil mengonfirmasikan hal tersebut. Untuk sektor finansial, perbaikan diwarnai dengan tren penguatan IHSG dan penurunan yield SUN secara persisten.

Ini merupakan buah positif dari peringkat investment grade yang disandang Indonesia saat ini. Stabilitas ekonomi juga relatif terjaga yang tercermin dari laju inflasi dan kurs rupiah yang terkendali. Inflasi kumulatif hingga November 2012 tercatat 3,73 persen (atau 4,32 persen yoy), masih berada pada sasaran inflasi 2012 sebesar 4,5 persen ±1 persen.

Sementara itu, perbaikan kinerja sektor riil tercermin dari penguatan investasi langsung yang realisasinya hingga triwulan III-2012 mencapai Rp230 triliun atau naik 27 persen dibandingkan tahun lalu. Kondisi ini tentu menciptakan efek pengganda yang tinggi bagi perekonomian.

Di lain pihak, tingginya konsumsi masyarakat telah berimplikasi pada penguatan kinerja impor dewasa ini. Namun, kinerja ekspor relatif masih lemah akibat rendahnya permintaan dunia sehingga neraca perdagangan cenderung defisit. Menyikapi hal ini, pemerintah akan terus mengupayakan berbagai terobosan guna meningkatkan kinerja ekspor seperti kebijakan diversifikasi baik dari sisi destinasi maupun komoditas ekspor. Hal yang paling penting, di tengah kontraksi global, ekonomi Indonesia tetap tumbuh cukup kuat.

Dalam tiga triwulan ini,ekonomi tumbuh rata-rata 6,3 persen dan pemerintah optimistis pertumbuhan agregat 2012 akan tetap di atas enam persen dengan dukungan dua mesin pertumbuhan, yaitu konsumsi masyarakat dan investasi. Dari sisi fiskal, ketahanan fiskal dewasa ini juga semakin kuat tercermin dari rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) yang cenderung turun.

Awal 2000, rasionya masih di atas 80 persen, dan kini turun menjadi 24 persen. Realisasi defisit fiskal dalam lima tahun terakhir dapat dijaga di kisaran satu persen dari PDB. Hal ini tentu akan meningkatkan fleksibilitas fiskal dalam pembiayaan pembangunan dan menunjukkan masih tersedianya ruang fiskal yang cukup untuk antisipasi dampak krisis global.

Prospek 2013

Pada 2013, pemerintah melihat ekonomi global masih diwarnai tekanan dan ketidakpastian. Karena itu, pemerintah telah menyiapkan sejumlah instrumen proteksi krisis untuk menjaga stabilitas pertumbuhan dan ekonomi. Untuk mengamankan target pertumbuhan 6,8 persen 2013, pemerintah akan tetap memaksimalkan dua mesin pertumbuhan, yaitu konsumsi masyarakat dan investasi.

Pentingnya penguatan konsumsi masyarakat didasari faktor alamiah bahwa Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar ke-4 dunia, yaitu 240 juta jiwa. Dengan penduduk besar, berarti daya dukung konsumsi masyarakat terhadap pertumbuhan juga semakin besar. Terbukti, dalam tiga tahun terakhir, rata-rata distribusi konsumsi masyarakat terhadap pembentukan PDB mencapai 57 persen. Selain itu, melalui momentum demographic dividend (suatu fenomena di mana populasi didominasi oleh usia produktif) akan mendorong penguatan konsumsi masyarakat.

Tumbuhnya kelompok middle income class dewasa ini juga semakin memperkuat kontribusi konsumsi masyarakat terhadap pertumbuhan ekonomi. Diperkirakan, Indonesia akan menikmati puncak dari keuntungan tersebut di 2030. APBN 2013 juga didesain untuk memberikan penguatan bagi konsumsi masyarakat melalui berbagai program seperti Program Keluarga Harapan, Program Jamkesmas, dan PNPM Mandiri. Selain itu, penguatan konsumsi masyarakat juga dilakukan melalui alokasi berbagai subsidi baik subsidi energi maupun subsidi nonenergi.

Kebijakan yang tidak kalah penting untuk tetap menjaga daya beli masyarakat adalah kenaikan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) sebesar 55 persen mulai Januari 2013. Stimulus fiskal ini diharapkan akan efektif mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan tetap menjaga aspek kesetaraan ekonomi masyarakat.

Untuk meningkatkan investasi langsung, khususnya PMA, pemerintah akan terus menjaga iklim investasi yang baik dan mengevaluasi insentif fiskal. Saat ini, telah disediakan tax holiday untuk beberapa industri pionir, berupa pembebasan PPh Badan selama 5-10 tahun dan dua tahun berikutnya hanya membayar 50 persen PPh Badan.

Selain itu, juga disediakan tax allowance berupa fasilitas kemudahan berinvestasi dengan pengurangan penghasilan neto 30 persen, depresiasi dan amortisasi dipercepat, pengurangan tarif dividen, dan perpanjangan masa kompensasi kerugian. Melalui penguatan konsumsi masyarakat dan investasi, diharapkan resiliensi pertumbuhan ekonomi terhadap krisis dapat ditingkatkan.Ketika intensitas krisis semakin dalam dan kinerja ekspor terus melemah, konsumsi masyarakat dan investasi menjadi penyeimbang untuk tetap menjaga ekonomi agar bisa berekspansi.

Skenario ini terbukti efektif diterapkan ketika krisis 2008/2009. Bahkan diharapkan kontribusi komponen investasi terhadap pertumbuhan ekonomi 2013 (share to growth) akan melampaui konsumsi masyarakat. Selain kebijakan di atas, pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah kebijakan strategis guna menjaga pertumbuhan dan stabilitas ekonomi 2013, seperti alokasi dana APBN untuk belanja modal yang lebih besar, yaitu Rp216 triliun atau meningkat 28 persen, pembentukan tim evaluasi untuk mendukung penyerapan belanja (TEPPA), peningkatan anggaran infrastruktur untuk mendukung ketahanan energi, ketahanan pangan, konektivitas domestik, serta destinasi pariwisata, dan merancang ulang kebijakan subsidi harga menjadi subsidi yang tepat sasaran.

Upaya efisiensi subsidi energi antara lain dilakukan melalui pengendalian volume dan beban subsidi BBM (sistem subsidi tertutup, pembatasan penggunaan BBM bersubsidi), program diversifikasi BBM ke energi alternatif, penyesuaian tarif tenaga listrik (TTL), menurunkan pemakaian BBM pada pembangkit listrik dan mengoptimalkan penggunaan gas, batu bara, panas bumi, dan energi non-BBM lainnya, serta menurunkan susut jaringan.

Dari sisi regulasi, pemerintah juga telah menerbitkan regulasi untuk pengadaan lahan untuk kepentingan umum (Perpres 71/2012) dan melalukan revisi terhadap aturan pengadaan barang/jasa pemerintah melalui Perpres70/ 2012. Pemerintah juga menyadari bahwa ekonomi Indonesia 2013 akan dihadapkan pada sejumlah tantangan berat mulai dari ketidakpastian pemulihan krisis Eropa, volatilitas harga minyak dunia dan komoditas lainnya, beban subsidi energi yang semakin besar, hingga percepatan pembangunan infrastruktur.

Bahkan ketidakpastian pemulihan krisis global saat ini pun telah berdampak pada perlambatan pertumbuhan di sejumlah negaranegara berkembang termasuk China dan India yang melambat hingga di bawah rata-rata pertumbuhan dua tahun terakhir. Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru cukup kuat dan stabil.

Menurut McKinsey (September, 2012) volatilitas pertumbuhan Indonesia merupakan yang terendah di dunia, hal ini juga didukung oleh pernyataan The Economist (November, 2012) bahwa Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan paling stabil selama 20 triwulan terakhir. Pencapaian tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk terus mempertahankan pertumbuhan ekonomi di tengah krisis ekonomi dunia dengan memanfaatkan berbagai peluang emas seperti bonus demografi dan daya tarik investasi.

Di samping itu, pemerintah pun telah terbukti mampu menjaga stabilitas pertumbuhan tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan kebijakan fiskalnya. Dengan kinerja makroekonomi dan fiskal yang baik dilanjutkan oleh kebijakan-kebijakan yang mendukung, pemerintah optimistis segala tantangan tersebut bisa dihadapi dengan baik.


Analisis :
                Pencapaian perekonomian indonesia yang dianggap baik pada tahun 2012 dengan bisa menekan pertumbuhan inflasi dan menguatnya dari sektor investasi perlu dipertahankan ditengah krisis global dan ketidakpastian perekonomian eropa. Dan diharapkan bisa mempertahankan prestasi tersebut di tahun 2013.



Sumber :
http://economy.okezone.com/read/2012/12/24/279/736287/catatan-ekonomi-2012-dan-prospek-2013              25/12/2012                  19.25pm

Sabtu, 15 Desember 2012

Kestabilan Perekonomian Indonesia



JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan, Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi paling stabil di dunia sehingga para investor asing pun melirik Indonesia.
"Memang perekonomian Indonesia dalam 4-5 tahun terakhir bukanlah yang tertinggi, tetapi dinilai paling stabil sedunia," kata Darmin saat memberikan sambutan Global Entrepreneurship Week (GEW) di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (12/11/2012).
Menurut Darmin, pertumbuhan ekonomi Indonesia itu ditopang oleh sektor konsumsi yang tinggi dan dikombinasikan dengan sektor ekspor dan investasi. Namun, akhir-akhir ini, ekspor Indonesia cenderung melambat. Meski demikian, ekonomi Indonesia tetap kuat. Pada kuartal III-2012, perekonomian Indonesia tumbuh 6,17 persen. Sementara pada akhir tahun, Bank Indonesia dan pemerintah juga menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 6,3 persen.
"Pertumbuhan konsumsi yang stabil pasti sangat berbeda, apakah mampu dimanfaatkan di dalam negeri sehingga di sini juga perlu investasi asing. Namun, mayoritas investasi asing ini dikejutkan untuk penuhi pasar dalam negeri, bukan ekspor karena ekonomi dunia melambat," tambahnya.
Jika pasar dinamik, kata Darmin, investor akan tertarik ke pasar Indonesia. Sebab, ekonomi Indonesia didominasi oleh sektor konsumsi. "Maka, pengusaha akan mudah menjangkau di sektor konsumsi ini daripada produk yang dihasilkan dari barang modal dan bahan baku. Ini akan lebih terjangkau oleh pengusaha kita," tambahnya.
Sebagai informasi, pekan kewirausahaan ini tidak lain event terbesar bagi para inovator dan pencipta pekerjaan. Selama sepekan penyelenggaraan GEW diharapkan akan mendorong dan menginspirasi bagi siapa saja untuk menjadi starter dan inovator. Sejumlah kegiatan pun telah dirancang untuk mengakomodasi networking menjadi lebih intim, memperkenalkan peluang-peluang baru di bidang kewirausahaan.
Rencananya talk show akan menghadirkan pembicara Ciputra, Chairul Tanjung, dan Dahlan Iskan. GEW diluncurkan oleh mantan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown Carl Schramm dan CEO dari Ewing Marion Kauffman Foundation pada tahun 2008.
Sejak saat itu, GEW telah berkembang dan terselenggara di 115 negara dengan 24 ribu mitra organisasi. Lebih dari 37 ribu kegiatan telah terlaksana dengan melibatkan lebih dari 7 juta orang

Analisi :
Kestabilan perekonomian indonesia seperti yang dikatakan gubernur bank indonesia Darmin Nasution, tentunya menjadi kabar yang menggembirakan dan sepatutnya harus dipertahankan bahkan lebih bisa ditingkatkan lagi agar indonesia dapat bersaing dengan negara maju lainnya.

Sumber :
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/11/12/10381955/BI.Perekonomian.Indonesia.Terstabil.di.Dunia                      15/12/2012                06.30pm